Mohandharma's Blog

freak show

so long

Iklan

2011/04/15 Posted by | Tak Berkategori | Tinggalkan komentar

buat neya terkasih

Ayah ingin anak-anaknya punya lebih banyak kesempatan daripada dirinya, menghadapi lebih sedikit kesulitan, lebih tidak tergantung pada siapapun – dan (tapi) selalu membutuhkan kehadirannya.

Ayah membiarkan kamu menang dalam permainan ketika kamu masih kecil, tapi dia tidak ingin kamu membiarkannya menang ketika kamu sudah besar.

Ayah selalu tepat janji!

Ayah membantu membuat impianmu jadi kenyataan bahkan diapun bisa meyakinkanmu untuk melakukan hal-hal yang mustahil, seperti mengapung di atas air setelah ia melepaskanya.

Ayah mungkin tidak tahu jawaban segala sesuatu, tapi ia membantu kamu mencarinya.

dan aq adalah seorang AYAH..

2009/12/04 Posted by | my souL | , | 4 Komentar

my ; hope, hopeless, dream, pray….

“beibz. Did you find some hapiness with me?How i hope that you still miss me?would you take the risk it all with me?Lie to me and tell me that you never will leave me.u know, I still love to hear you “scream”… I’m screaming for something,As long as you’re alive and care, I promise I will take you there,And we’ll dance the night away!!In a room full of emptiness, On my deathbed I will pray To the God, and I’ll wait for you there Like a stone, alone.Do you miss me, Like i miss you. If you miss me, Never go away.Hopefully, you’ll come stay someday.If you’re leaving, come back soon. Thats not easy to do, I’ll wait here,dream of you.and always i’ve been waiting silently.Promise I will be forever yours, Promise not to say another word.thise notes are marked return to sender, i’ll save thise letter for myself. i wish you only knew that one thing is always true, i miss u and how good to see you.”

2009/10/15 Posted by | my souL | , , | Tinggalkan komentar

jangan maki PLN

pekanbaru, musim mati lampu…kemudian setiap orang mengutuk PLN, mencerca PLN, menghina PLN.
walah, ne orang pa manusia yang begitu. g di warung. g di pasar, g di facebook(yang kata MUI haram,he.e.e.), semua melakukan perbuatan marah masal.
piye toh, gmn kalo kita di posisi anak,atau istri, atau ortu dari yang bekerja di PLN. ga panas hati kita tuw??
PLN apalah coba, mereka hanya menjalankan tugas, mesin bagus y mereka bisa menghidupkan lampu kita. kalo da mesin jelek, emang g memadai buat kebutuhan lampu pekanbaru, ya mau gimana lagi. emang karyawan PLN yang buat rusak?? emng mreka yang bisa ganti baru??
yah, alasan politis seh jadi na kepada yang memimpin negeri ini, ntahlah siapa tu (he.e.e, kata sang guru g bole sebut nama). akhirnya yang salah sapa?? kita2 juga yang da sala milih mreka kaleee… (g tau ne becanda pa ga).
well, nikmatin aja la, g da yang bisa berubah dengan kita sumpa2hin, mending kita doakan. apa aja la doanya…

2009/08/30 Posted by | opinion__ | , , , | Tinggalkan komentar

balkoni

Saat ini yang menjadi sang guru adalah seorang spesialis forensic yang sedang menyelesaikan S3 kedeoteran klinik, menyelesaikan studynya di bidang bio etik. Mudah-mudahan selesai lekas, danmenjadi doctor di bidang bioetik pertama di Indonesia, amiin.

Beliau seoarang yang mengajarkan untuk kita selalu menghargai dan menikmati setiap proses dalam kehidupan, tidak mengkhawatirkan apa hasil dari suatu keadaan itu. Dalam menjalani proses itulah kita berjuang. Bapak (dr. dedi) selalu mengajarkan kita untuk selalu mengandalkan kekuatan dalam bepikir, terutama dalam menyelesaikan masala-masalah.

Disini saya coba berbagi teori yang di kemukannnya dalam menapaki setiap masalah. “teori BALKONI” bapak menyebutnya. Seperti halnya kita mengetahui, bahwa semisal rumah, memiliki sebuah balkon, yang tentunya terletak lebih tinggi dari permukaan rumah kita.
Dalam mengahdapi masalah, kita harus meletakan diri untuk melihat masalah dari “atas”, bukan dari sisi depan, belakang ataupun samping. Dari “atas” inilah kita dapat melihat seutuhnya. dan juga jangan sekali-kali kita turun ataupun terlibat bersama kusutnya masalah itu.kita bakal dapat melihat semuanya seutuhnya dari atas. Mencoba untuk meluruskan yang kusut tersebut, memilah-milahkannya.

Well…. Ntar sambung lagi, cuapekz…

2009/08/25 Posted by | analisa__ | , , , | 5 Komentar

mimpi yang tak begitu indah

Julay, 16th 2009
10.52am

“Dalam kehidupan ini bapak tidak butuh ibu, tapi bapak butuh ibu dalam menjalani kehidupan ini, begitulah. Karena yang bapak inginkan adalah kesunyian bukan kesendirian”. Itu adalah kata terakhir yang kudengar sebelum aku keluar dari kamar tengah itu sambil membawa sebuah kursi usang yang sebenarnya tidak pernah ingin kulakukan, namun pikiranku meminta dengan penuh harap agar aku melakukannya. Dan itu kulakukan.
Bapak kemudian duduk di depanku yang sedang duduk dikursi usang miliknya, memakai baju kaos hijau tua dan celana katun putih, membakar tembakau yang telah lama dipegangya sambil mulai mengoceh. “bapak tidak ingat apa yang bapak lakukan tetapi begitu tadi bapak tersadar, bapak telah berada di halaman belakang rumah. Memegang sebuah sabit berukuran sedang dan telah sedang memotong rumput. Saat itu bapak sama sekali tidak berniat ataupun berpikir untuk memotong rumput, namun, tangan bapak tetap bergerak membabat rumput-rumput tersebut. Sebelumya juga terjadi begitu, yang bapak ingat adalah bapak berada dikamar tengah. Membakar lintingan terkhir tembakau racikan bapak, lalu tanpa sadar sesaat kemudian begitu tersadar ternyata Bapak telah berada di halaman belakang”.
Bapak melanjutkan “Setelah menyelesaikan pekerjan di halaman belakang, yang hati dan pikiran bapak katakan adalah harus kembali duduk di kursi usang milik bapak ini, kembali seperti biasa yang bapak lakukan selama 15 tahun terakhir ini. Duduk bersandar, menghadap ke sisi jendela sebelah matahari terbenam, menghadap ke halaman belakang, melempar pandangan sejauh mungkin ke arakan awan. Seperti biasanya yang Bapak lakukan ketika pikiran bapak sedang kosong atau bahkan mungkin terlalu penuh, namun bapak tidak pernah perduli dengan itu. Yang bapak tahu dengan melakukan itu pikiran bapak akan tenang, dan mendapatkan kedamaian hati disana.” Aku hanya diam mendengarkan cerita Bapak.
“Bapak tidak bisa merasakan apapun perasaan-perasaan yang ada dalam diri ini, tetapi otak bapak selalu terpikir akan sesuatu yang tidak terlupakan namun telah hilang. Sesuatu yang Bapak pikir tidak akan pernah terjadi tapi telah Bapak raih pada saat yang bersamaan. Suatu keadaan yang jelas pernah dijalani tapi tidak meninggalkan kesan bahwa semua yang terjadi itu adalah nyata.”
“Bapak selalu mencoba untuk menyimpulkan selama ini pernah ada seseorang yang pernah berada di tempat kamu duduk sekarang bertahun-tahun lalu. Seseorang yang dalam hati bapak jelas sangat mengenalnya namun pikiran bapak tidak mampu memberitahukan siapa dia. Orang itu selalu hadir dirumah ini, namun hanya berada dibalik pintu itu.” Bapak memandang pada pintu rumah. “Bapak sendiri sangat tak kuasa menahan keinginan memintanya masuk agar dapat melihatnya, hanya bayangannya yang terlihat pada celah pintu itu. Tidak pernah sekalipun lebih dari itu. Kadang sambil berteriak dalam hati bapak mengatakan ‘sudah cukup disana saja, jangan lebih dekat, tetaplah berada balik pintu itu’, tetapi akhirnya suara yang keluar dari mulut yang tak kuasa menahan keinginan hati ini mengatakan,’silahkan masuk, mungkin ada yang bisa kita bicarakan?’ dengan tak berdaya.”
“Namun bayangan itu sama sekali tidak bergeming, ya, Bapak sangat yakin bahwa didalam hatinya, dia akan berkata berkata ‘saya sangat ingin duduk di kursi sebelah kamu, kemudian melihat dan mendengarkan suara mu ketika beebicara’, tetapi kemudian suara yang bapak dengar dari balik pintu itu mengatakan, ‘sudahlah pak, saya cukup disini saja. Disini lebih nyaman ’.”
“Terkadang Bapak mencoba memajamkan mata untuk membayangkan keadaan tersebut, dan membiarkan diri ini terbuai dengan imajinasi yang ingin Bapak ciptakan, namun yang terjadi justru yang muncul adalah bayangan ketika Bapak sedang memotong rumput tadi. Tidak pernah lebih dari itu.”
“Suatu waktu Bapak mencoba untuk membuka mata lebar-lebar dan menghisap tembakau ini sedalam mungkin, dan yakin bapak dalam keadaan sangat sadar, berusaha untuk melihat hanya kepada rumput yang bapak potong tadi, namun tak kuasa untuk mengalihkan pandangan kearah pintu tenpat bayangan itu pernah ada.”
“Akhirnya, pada saat-saat seperti itu terjadi secara terus menerus setiap harinya. Setiap saat hati dan pikiran bapak harus bisa berjalan bersama dan mengatakan, ‘sudahlah’. Keadaan itu berulang terus terjadinya setiap harinya sejak ‘dia’ sudah tak lagi duduk di kursi yang sedang kamu duduki sekarang ini”
Kembali Bapak yang matanya jelas terlihat cekung dan lelah, namun tetap memancarkan semangat dari hatinya, melempar pandangannya jauh kearah arakan awan di langit sebelah barat……

2009/08/24 Posted by | my souL | , , | Tinggalkan komentar