Mohandharma's Blog

freak show

mimpi yang tak begitu indah


Julay, 16th 2009
10.52am

“Dalam kehidupan ini bapak tidak butuh ibu, tapi bapak butuh ibu dalam menjalani kehidupan ini, begitulah. Karena yang bapak inginkan adalah kesunyian bukan kesendirian”. Itu adalah kata terakhir yang kudengar sebelum aku keluar dari kamar tengah itu sambil membawa sebuah kursi usang yang sebenarnya tidak pernah ingin kulakukan, namun pikiranku meminta dengan penuh harap agar aku melakukannya. Dan itu kulakukan.
Bapak kemudian duduk di depanku yang sedang duduk dikursi usang miliknya, memakai baju kaos hijau tua dan celana katun putih, membakar tembakau yang telah lama dipegangya sambil mulai mengoceh. “bapak tidak ingat apa yang bapak lakukan tetapi begitu tadi bapak tersadar, bapak telah berada di halaman belakang rumah. Memegang sebuah sabit berukuran sedang dan telah sedang memotong rumput. Saat itu bapak sama sekali tidak berniat ataupun berpikir untuk memotong rumput, namun, tangan bapak tetap bergerak membabat rumput-rumput tersebut. Sebelumya juga terjadi begitu, yang bapak ingat adalah bapak berada dikamar tengah. Membakar lintingan terkhir tembakau racikan bapak, lalu tanpa sadar sesaat kemudian begitu tersadar ternyata Bapak telah berada di halaman belakang”.
Bapak melanjutkan “Setelah menyelesaikan pekerjan di halaman belakang, yang hati dan pikiran bapak katakan adalah harus kembali duduk di kursi usang milik bapak ini, kembali seperti biasa yang bapak lakukan selama 15 tahun terakhir ini. Duduk bersandar, menghadap ke sisi jendela sebelah matahari terbenam, menghadap ke halaman belakang, melempar pandangan sejauh mungkin ke arakan awan. Seperti biasanya yang Bapak lakukan ketika pikiran bapak sedang kosong atau bahkan mungkin terlalu penuh, namun bapak tidak pernah perduli dengan itu. Yang bapak tahu dengan melakukan itu pikiran bapak akan tenang, dan mendapatkan kedamaian hati disana.” Aku hanya diam mendengarkan cerita Bapak.
“Bapak tidak bisa merasakan apapun perasaan-perasaan yang ada dalam diri ini, tetapi otak bapak selalu terpikir akan sesuatu yang tidak terlupakan namun telah hilang. Sesuatu yang Bapak pikir tidak akan pernah terjadi tapi telah Bapak raih pada saat yang bersamaan. Suatu keadaan yang jelas pernah dijalani tapi tidak meninggalkan kesan bahwa semua yang terjadi itu adalah nyata.”
“Bapak selalu mencoba untuk menyimpulkan selama ini pernah ada seseorang yang pernah berada di tempat kamu duduk sekarang bertahun-tahun lalu. Seseorang yang dalam hati bapak jelas sangat mengenalnya namun pikiran bapak tidak mampu memberitahukan siapa dia. Orang itu selalu hadir dirumah ini, namun hanya berada dibalik pintu itu.” Bapak memandang pada pintu rumah. “Bapak sendiri sangat tak kuasa menahan keinginan memintanya masuk agar dapat melihatnya, hanya bayangannya yang terlihat pada celah pintu itu. Tidak pernah sekalipun lebih dari itu. Kadang sambil berteriak dalam hati bapak mengatakan ‘sudah cukup disana saja, jangan lebih dekat, tetaplah berada balik pintu itu’, tetapi akhirnya suara yang keluar dari mulut yang tak kuasa menahan keinginan hati ini mengatakan,’silahkan masuk, mungkin ada yang bisa kita bicarakan?’ dengan tak berdaya.”
“Namun bayangan itu sama sekali tidak bergeming, ya, Bapak sangat yakin bahwa didalam hatinya, dia akan berkata berkata ‘saya sangat ingin duduk di kursi sebelah kamu, kemudian melihat dan mendengarkan suara mu ketika beebicara’, tetapi kemudian suara yang bapak dengar dari balik pintu itu mengatakan, ‘sudahlah pak, saya cukup disini saja. Disini lebih nyaman ’.”
“Terkadang Bapak mencoba memajamkan mata untuk membayangkan keadaan tersebut, dan membiarkan diri ini terbuai dengan imajinasi yang ingin Bapak ciptakan, namun yang terjadi justru yang muncul adalah bayangan ketika Bapak sedang memotong rumput tadi. Tidak pernah lebih dari itu.”
“Suatu waktu Bapak mencoba untuk membuka mata lebar-lebar dan menghisap tembakau ini sedalam mungkin, dan yakin bapak dalam keadaan sangat sadar, berusaha untuk melihat hanya kepada rumput yang bapak potong tadi, namun tak kuasa untuk mengalihkan pandangan kearah pintu tenpat bayangan itu pernah ada.”
“Akhirnya, pada saat-saat seperti itu terjadi secara terus menerus setiap harinya. Setiap saat hati dan pikiran bapak harus bisa berjalan bersama dan mengatakan, ‘sudahlah’. Keadaan itu berulang terus terjadinya setiap harinya sejak ‘dia’ sudah tak lagi duduk di kursi yang sedang kamu duduki sekarang ini”
Kembali Bapak yang matanya jelas terlihat cekung dan lelah, namun tetap memancarkan semangat dari hatinya, melempar pandangannya jauh kearah arakan awan di langit sebelah barat……

Iklan

2009/08/24 - Posted by | my souL | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: